Berawal dari Sebuah Kata “Hai!”

Perkenalkan, namaku adalah Narina Zhafira. Aku adalah seorang gadis berumur 27 tahun yang dilahirkan dari sebuah keluarga biasa dengan perekonomian biasa dan alasan untuk hidup yang biasa, apalagi kalau bukan untuk hidup dengan bahagia.

27 tahun menjadi manusia di bumi ini sempat membuatku memiliki cara pandang yang berubah-ubah hingga akhirnya aku memilih untuk memiliki cara pandang rasional seperti saat ini. Ya, setelah begitu banyak hal yang telah kulewati, kini sebagian besar temanku selalu menyebutku si ”rasionalis tanpa hati”. Kupikir aku akan selamanya menyandang gelar tersebut, sampai suatu ketika sebuah kata ‘Hai’ mampu membuat duniaku berputar 180 derajat.

“Mau ke mana lagi kita setelah ini, Na?“, pertanyaan Dira untuk kesekian kalinya mengganggu konsentrasiku yang sedang sibuk menulis deadline artikel.

“Dira, kamu gak liat dari tadi aku lagi ngapain? Sabar dong, Dir! Biar aku selesaikan dulu kerjaan kantor menyebalkan ini. Setelah itu baru kita pikirkan ke mana kita akan pergi“

“Dari dua jam lalu aku juga tau kamu lagi ngapain, Na. Tapi sampai kapan kamu akan mengerjakan kerjaan kantor dan nyuekin aku kayak gini? Aku yakin bahkan kamu gak sadar kalau aku dari tadi sudah menghabiskan 2 gelas milkshake plus secangkir hot chocolate demi menunggu kamu menyelesaikan pekerjaan kantormu itu“

Aku tidak menanggapi keluhan Dira. Dira selalu begitu. Kalau sudah ada mau dan aku tidak bisa langsung memenuhinya, selalu aku yang menjadi korban pertama untuk mendengar seluruh keluhannya. Seebenarnya keinginan Dira kali ini sangat sederhana. Ia hanya ingin aku mengantarkannya ke pusat perbelanjaan baru di tengah kota. Minggu depan adalah hari ulang tahun Ardi, kekasih Dira yang sudah dipacarinya selama satu setengah tahun itu. Dira berencana akan membelikan Ardi sepasang sepatu running yang menurut Dira telah Ardi idam-idamkan sejak lama. Kalau saja aku tidak sedang dikejar deadline dari si bos besar, mungkin telingaku tidak akan memerah karena lelah mendegar protes dari Dira yang ingin cepat-cepat mendatangi pusat perbelanjaan itu.

“Oke, ayuk kita pergi! Tapi inget ya, sampai sana kita hanya akan masuk ke bagian sepatu running, membeli sepatu untuk Ardi, lalu langsung pulang! Aku tidak punya banyak waktu karena deadline ini harus segera kusetor ke bos sebelum jam 5 sore ini“, kataku setelah tak tega melihat wajah Dira yang terlihat mati gaya setelah menemaniku menulis selama dua jam.

“Nah, gitu dong. Siap, bos. Yuk, kita jalan!“

Setelah membayar minuman yang telah kami pesan, mobil kami langsung melesat menembus padatnya jalanan kota Jakarta. Tidak butuh waktu lama sebenarnya untuk sampai ke pusat perbelanjaan yang kami inginkan, namun dikarenakan macetnya jalanan ibu kota, waktu perjalanan yang harus kami tempuh pun menjadi dua kali lipat lebih lama dari biasanya.

Setelah sampai, kucoba memarkirkan mobil di lantai satu tempat parkir karena aku merasa kami tak akan berlama-lama di pusat perbelanjaan ini. Toh hanya akan membeli sepasang sepatu dan lekas pulang.

Setelah kulihat, ternyata lantai satu terlalu penuh. Tidak ada ruang untuk memarkirkan mobil kami. Terpaksa kami beranjak ke lantai kedua, ketiga, dan keempat. Tetap sama, penuh. Mungkin karena pusat perbelanjaan ini baru, lantas hampir sebagian masyarakat kota Jakarta berbondong-bondong ingin merasakan sensasi belanja di sini.

Setelah lama berputar-putar, akhirnya kami menemukan tempat parkir di lantai 7 dan itu pun hanya tersisa satu tempat di samping Ferari merah. Kuhembuskan napas lega karena akhirnya kami tidak harus naik ke lantai yang lebih tinggi hanya untuk memarkirkan mobil yang kuarasa tidak akan lebih dari satu jam berada di parkiran ini.

Ini sudah ketiga kalinya Dira datang ke pusat perbelanjaan ini dan untukku kedua kalinya. Pertama kali Dira ke sini, ia hanya datang untuk melihat-lihat seperti apa pusat perbelanjaan yang katanya telah menjadi pusat perbelanjaan paling modern di Jakarta saat ini. Saat itu Dira datang tidak bersamaku karena aku sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan. Kedua kalinya Dira datang bersamaku, hunting hadiah untuk ulang tahun Ardi. Namun saat itu kami datang terlambat sehingga ketika kami ingin membeli sepatu yang telah diinginkan Ardi sejak lama, toko yang menjual sepatu tersebut telah tutup. Inilah kali ketiga kami datang ke sini untuk membeli sepatu seharga satu setengah juta rupiah itu.

“Na, dompetku ada di kamu gak?“, tanya Dira ketika hendak membayar sepatu yang telah berada di atas meja kasir.

“Loh, kok nanya dompetmu ke aku? Terakhir kali aku liat kamu kann naruh dompet di tasmu lagi setelah bayar minuman“, ucapku berbisik karena tidak tahan melihat tatapan mas-mas kasir yang melihat kami seolah-olah mengatakan, “Kalau gak punya uang, gak usah sok-sok beli sepatu mahal!“

“Oh My God, kayaknya dompetku ketinggalan di mobilmu deh, Na. Aku tadi sempat ngeluarin dompet dan kayaknya lupa aku masukin lagi ke tas karena keburu ngangkat telfon dari Ardi. Bisa tolong ambilkan gak, Na?“, tanya Dira sambil tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapih.

“Loh, kenapa aku? Kan kamu yang ninggalin. Kamu aja sana yang ngambil. Nih, aku kasih kuncinya“, ucapku menolak seraya menyodorkan kunci mobil ke depan wajah Dira.

“Yah, jangan aku dong, Na! Aku lupa di mana kamu memarkirkan mobilmu. Nanti kalau aku kesasar gimana?‘‘

“Maaf mbak, ini sepatunya jadi dibeli gak ya? Karena sudah banyak banget yang ngantri di belakang mbak“, ucap mas-mas penjaga kasir memotong percakapanku dengan Dira.

“Oh, jadi, mas. Tapi dompet saya ketinggalan di mobil. Ini sebentar lagi teman saya akan ke mobil untuk ngambil dompet saya. Silahkan mbak ini duluan bayar!‘‘, ucap Dira memepersilahkan seorang perempuan muda yang berada di belakangnya untuk membayar barang belanjaannya duluan.

Ini kebiasaan buruk Dira kedua setelah kebiasaan suka mengeluh ketika keinginannya tidak terpenuhi. Dira selalu suka berbicara dan berbuat seenaknya kepadaku. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan seluruh kebiasaan buruk Dira. Maklumlah, kami sudah bersahabat selama kurang lebih 10 tahun sejak masuk SMA. Namun terkadang kebiasaan Dira ini tidak sesuai dengan keadaan fisikku yang terkadang sedang lelah.

Dira menatap wajahku dengan wajah memelas seperti biasanya. Aku berani bersumpah siapapun yang sedang melihat akting memelas Dira tidak akan tega menolak apapun permintaannya. Kulangkahkan kaki dengan malas keluar dari toko sepatu tersebut dan segera menuju tempat parkiran.

Sebenarnya ada baiknya juga Dira memintaku untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan di dalam mobil. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian di pusat perbelanjaan. Keramaian di mana semua orang ribut memilah milih barang apa yang pas untuk diri mereka sungguh mampu membuat sakit kepalaku kambuh seketika.

15 menit berjalan, aku telah sampai di depan mobil BMW hitam milikku. Kubuka pintu depan mobil yang sempat terkunci. Benar saja. Urusan kecerobohan memang Diralah jagonya. Kutemukan dompet Dira di bawah jok tempat ia duduk di bagian depan mobil. Kuambil dompet Dira dengan sedikit menunduk karena aku masih dalam posisi berdiri di luar mobil. Setelah memastikan tidak ada lagi barang Dira yang tertinggal, aku berniat untuk mengunci pintu mobilku hingga kata ‘Hai’ yang seketika mampu menghancurkan kerasionalanku itu begitu lembut terdengar di telingaku.

”Hai, Narina!”, ucap suara dari arah belakang tubuhku.

Aku segera membalikkan badan. Sontak aku terkejut dengan pemandangan yang sedang aku lihat saat itu.

”Ya Tuhan, kamu ada di sini, di kota ini. Sejak kapan kamu pulang ke kota ini, Na?”

Aku masih diam membisu. Masih tidak percaya bahwa seorang Rafliza Pramudya dengan tatapan yang selalu kukenal sedang berdiri di hadapanku. Ya, ialah Rafi yang demi mendengarkan kata ‘Hai’ dari bibirnya saja mampu merobohkan tembok yang telah kubangun sejak lima tahun silam.

”Narina, are you ok?”, tanya Rafliza sembari mengguncang bahuku lembut. Kuyakin ia melihat kedua bola mataku yang berkaca-kaca.

”Oh, sorry. Yeah, I’m fine. Hai, Za! Long time no see. How are you?”

”I’m fine too. Sorry kalau aku mengejutkkanmu. Aku sebenarnya sudah memperhatikanmu dari dalam mobil ketika kamu sedang berjalan ke arah sini. Oh My God, you have come back. Lihatlah takdir Tuhan yang sudah digariskan kepada kita. Setelah lima tahun tidak bertemu, ternyata Tuhan menakdirkan mobil kita diparkirkan bersebelahan sehingga tanpa sengaja aku bisa mengenalimu dari dalam mobilku”, ucap Za yang ternyata adalah pemilik dari mobil Ferari merah yang berada tepat di samping mobilku. Ah, kebetulan macam apa ini. Sesaat aku meragukan rencana yang telah Tuhan persiapkan untukku kali ini.

”Aku sempat dengar kabar dari beberapa temanmu kalau kamu diterima menjadi executive manager di salah satu perusahaan di Jerman. Aku kira kamu akan menetap di sana dan tidak akan kembali ke sini. You know that everyone knows how your dream is”, Za melanjutkan ucapannya.

”Yeah, I had been in German for 4 years. I came back here last year. After all the problems, akhirnya kuputuskan untuk kembali. Tapi aku tetap bekerja di perusahaan tersebut. Hanya sesekali harus bolak-balik Jakarta-Cologne”, jelasku tanpa sedetik pun melepaskan pandangan ke arah kedua mata yang sempat membuat aku selalu merasa bahagia lima tahun silam. Ya, tepatnya sebelum aku mengetahui fakta menyakitkan mengenai hubungan aku dan Za saat itu.

”Na, your phone is ringing. Won’t you answer it?”, suara Za kali ini menyadarkanku bahwa aku sedari tadi sibuk mengagumi wajahnya yang semakin tampan tanpa sadar bahwa Dira ternyata menelfonku.

Jarak

Jarak itu tak selamanya siksa.

Jarak nyatanya bisa menjadi kenikmatan tersendiri.

Bagaikan punuk yang merindukan bulan, ia terus berdoa agar kasihnya tersampaikan.

Mungkin jarak bisa berarti kedekatan dengan Tuhan.

Menyelipkan ribuan doa untuk jarak yang terbatasi ribuan pulau bahkan benua.

Bagaikan fans yang memuja idolanya, ia terus berusaha untuk membahagiakan idolanya.

Mungkin jarak bisa berarti pengorbanan.

Mengorbankan apapun agar yang berada di jarak yang tak terjangkau oleh lima atau sepuluh langkah itu tetap berbahagia.

Jarak nyatanya bagian dari kebahagiaan.

Kebahagiaan untuk terus membenah dir.

Kebahagiaan untuk terus mengejar mimpi.

Berharap ketika yang terjauh menjadi dekat, ia bisa mengagumi perubahan yang berarti.

Jarak itu teman terbaik.

Terbaik dalam mengajarkan kesabaran.

Terbaik dalam melatih kesetiaan.

Hingga yang terjauh menjadi dekat, jarak akan selalu mengajarkan kebaikan.

Terima kasih, Jarak 🙂

Kalau Masih Ada Yang Lain, Kenapa Harus Nilai Yang Bagus?

Akan kukisahkan kepadamu sebuah cerita mengenai seorang anak perempuan biasa dengan nilai IPK biasa namun dilahirkan dan dibesarkan di sebuah keluarga yang luar biasa dan selalu mendapatkan kesempatan yang luar biasa di sekitar lingkungan yang luar biasa pula. Alkisah perempuan yang lahir di abad ke-19 ini dilahirkan oleh seorang ibu yang juga memiliki masa kecil biasa. Di masa kecilnya, sang ibu tersebut gemar menjajakan rantang berisikan gorengan untuk dijual kepada teman-teman di sekolahnya. Pekerjaan tersebut ia lakukan terus menerus, dari satu hari ke hari yang lain demi membantu perekonomian keluarganya. Tidak ada rasa malu yang ia rasakan. Hanya ada kemauan keras dan kepercayaan bahwa dengan menjual gorengan tersebut, ia akan bisa melanjutkan pendidikannya hingga taraf universitas. Benar saja, dengan kemampuan yang tidak bisa dibilang luar biasa dan dengan IPK yang bukan cumlaude, ia berhasil mendapatkan beasiswa SUPERSEMAR dan melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas yang terletak di Jakarta. Setelah lulus dan berhasil mendapatkan gelar S.Pd, mulailah ibu tersebut berusaha mencari pekerjaan. Ia sempat bekerja di berbagai sekolah swasta sebagai wali murid anak TK dan SD. Merasa tidak puas, dengan kemauan kuat dan doa yang tidak pernah putus, ibu tersebut memutuskan untuk mengikuti ujian masuk untuk menjadi pegawai negeri. Ia tahu bahwa ia bukan berasal dari keluarga kaya yang dapat memberikan uang pelicin dan ia juga tidak memiliki kenalan orang dalam yang dapat melancarkan misinya untuk bisa menjadi pegawai negeri. Ia tahu betul bahwa yang ia punya hanya kemampuan pas-pasan dengan modal pengetahuan Bahasa Inggris yang juga biasa-biasa saja. Namun, walaupun begitu ia tidak putus asa dan tetap mengikuti ujian tersebut. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa usaha tidak pernah menghianati hasil, begitu juga hasil yang akhirnya diterima ibu tersebut. Tak disangka-sangka, ia mendapatkan status ”pegawai negeri” dari tes yang telah ia lakukan. Kini, ibu tersebut bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Bekasi dan tetap melanjutkan hidupnya untuk mengabdi kepada negara.

Perempuan yang sebentar lagi akan kuceritakan ini juga memiliki ayah yang memiliki masa kecil yang juga bisa dianggap biasa saja. Lahir di sebuah desa kecil yang terletak di provinsi Sumatera Barat mengharuskan ia harus merantau hingga ke ibu kota Jakarta untuk mengadu nasib. Dengan ijazah SMK seadanya dan dengan tidak menyandang gelar sarjana, laki-laki tersebut berhasil diperkerjakan di sebuah televisi buatan pemerintah yang cukup ternama pada saat itu. Setelah bekerja selama beberapa tahun di televisi milik pemerintah tersebut, ia dipindahkan ke sebuah televisi swasta dan tetap bekerja dengan mengandalkan prinsip ”kejujuran, kerja keras dan rendah hati”. Dalam hitungan beberapa tahun saja, setelah melihat hasil kerjanya yang memuaskan, atasannya dengan mudah memberikan jabatan yang mungkin bisa dibilang lebih tinggi dari pekerja dengan ijazah S1 kepada laki-laki berkulit sawo matang tersebut. Kini, setelah ia berhenti bekerja di televisi swasta tersebut karena usia yang sudah melampaui batas usia kerja, laki-laki tersebut dengan tetap mengandalkan tiga prinsip kerjanya menjalani hari-harinya dengan berjualan sembako kecil-kecilan di sebuah rumah minimalis yang terletak di kota Bogor. Setelah bekerja hampir lebih dari 30 tahun, kini laki-laki tersebut hanya tinggal memetik buah dari hasil kerja kerasnya selama ini dengan sesekali melayani pelanggan-pelanggan warungnya yang cukup sering datang untuk sekedar makan semangkok mie instan yang diseduhkan di tengah-tengah hawa sejuk kota Bogor.

Laki-laki yang telah kuceritakan tadi tinggal bersama seorang anak perempuannya yang merupakan adik dari seorang perempuan yang dalam hitungan detik setelah ini akan kuceritakan kepada kalian semua. Alkisah, adik dari perempuan tersebut di masa kecilnya merupakan sosok yang cerdas namun pemalas. Walaupun rajin belajar merupakan sesuatu yang dibenci olehnya, namun dari SD sampai SMA, adik manis ini selalu mendapatkan peringkat walaupun bukan peringkat pertama di kelasnya. Bahkan ia berhasil memasuki SMA berbasis Internasional. Lulus dengan nilai yang biasa-biasa saja, ia berhasil melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas negeri yang cukup ternama di kawasan Bogor. Hanya dengan mengandalkan doa yang tidak pernah putus dan nilai yang bisa dibilang biasa saja, perempuan tersebut berhasil mendapatkan bangku kosong di universitas tersebut melalui jalur PMDK (tanpa tes masuk). Kini, walaupun tetap tidak terlalu memikirkan nilai yang harus diraih, ia terus melanjutkan kehidupan kampusnya dengan gelar mahasiswa dua jurusan dan berhasil mendapatkan beasiswa berprestasi dari kampusnya.

Kini saat yang telah ditunggu-tunggu telah tiba. Kan kuceritakan kepada kalian tentan perempuan yang di masa kecilnya selalu menganggap bahwa nilai bagus merupakan sebuah keharusan untuk menjadi orang yang sukses hingga akhirnya kehidupan kuliahnya berhasil membuka matanya bahwa nilai bagus merupakan sesuatu yang penting namun bukan suatu titik mutlak untuk dapat menjadi orang sukses. Dari sejak kecilnya, perempuan tersebut selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Jika seorang temannya mendapatkan nilai satu poin lebih tinggi darinya, dalam hitungan detik moodnya pun akan berubah. Bahkan ketika kertas soal ujian telah dibagikan, ia tidak segan mengontrol kertas ujian itu kembali dengan berharap bahwa ada bagian di mana guru pelajaran yang diujiankan tersebut berbuat suatu kesalahan ketika mengoreksi kertas ujiannya. Anak perempuan tersebut terbiasa dengan jurusan ‘’bintang kelas’’ yang disematkan kepadanya ketika ia mendapatkan peringkat satu dari SD sampai ia SMA. Ia sangat tergila-gila untuk selalu menjadi murid kesayangan guru-gurunya ketika ia dapat aktif di setiap kegiatan kelas yang berlangsung. Beasiswa baginya merupakan sesuatu yang lumrah karena dari ia kecil, ibunya selalu rajin menggunakan nilai-nilainya untuk didaftarkan ke berbagai program beasiswa yang ada. Hingga ia SMA yang ia pikirkan hanya bagaimana mendapatkan nilai bagus tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan ia tidak pernah berani ikut organisasi apapun terkecuali ekstrakulikuler yang memang diwajibkan oleh pihak sekolah hanya karena tidak ingin nilainya turun dan pada akhirnya gagal meneruskan program beasiswa yang telah ia dapatkan. Peringkat satu mungkin dengan mudah ia dapatkan, beasiswa dengan tidak menggunakan banyak tenaga dapat ia takhlukkan, tapi sejujurnya tidak ada makna kehidupan yang ia peroleh dari sifatnya yang tamak akan nilai tersebut.

Tibalah saatnya ketika ia berhasil melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas terbaik di Turki dan memulai kehidupan barunya. Ia mulai bergabung dengan beberapa organisasi. Di saat itulah ia baru menyadari bahwa selama ini sesungguhnya dirinya benar-benar tertinggal. Ia baru menyadari bahwa selama ini yang ia dapatkan hanya nilai bagus tanpa tahu bagaimana cara untuk mengembangkan dirinya. Ia baru sadar bahwa nilai terbaik yang ia dapatkan selama ia SD tidak dipergunakan untuk dapat meloloskan ia masuk ke sebuah SMP yang terletak di Bekasi begitupun nilai terbaik di SMP dan SMAnya yang tidak dipergunakan untuk meloloskan dirinya untuk bisa melanjutkan kuliahnya di Turki karena pada akhirnya ia masuk SMP, SMA atau berhasil mendapatkan beasiswa ke Turki pun terjadi karena ia berhasil lolos tes tertulis yang dilaksanakan pada saat itu. Akhirnya cara pandang perempuan tersebut pun berubah. Ia tetap melakukan hal terbaik yang dapat ia lakukan selama ia masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas yang berada di kawaan Istanbul Eropa tersebut namun tanpa perlu mewajibkan dirinya untuk memenuhi patokan terbaik yang dapat seenaknya ia ciptakan sendiri. Baginya kini apapun yang dilakukan dengan usaha yang terbaik juga akan mendapatkan hasil yang terbaik. Dengan pemikiran tersebut, ia berhasil membangun koneksi yang lebih luas dan dapat diberikan kesempatan untuk bekerja dengan beberapa orang penting yang datang dari Indonesia. Kini, di tengah-tengah kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia juga diamanahkan untuk bisa menjadi sekretaris di sebuah perusahan Jerman. Apakah semua kesempatan-kesempatan emas yang datang kepadanya ada hubungannya dengan nilai terbaik yang ia peroleh ketika dia mengenyam pendidikan selama tiga tahun terakhirnya di kampus? Jawabannya tidak, teman. Tidak ada sama sekali pun kesempatan emas yang ia dapatkan diperoleh dari pengajuan nilai IPK yang selama ini ia peroleh.

Cerita ini dapat kuceritakan kepadamu secara detail karena perempuan tersebut adalah aku yang saat ini sedang mengucap seribu kata syukur karena sudah tidak terjerat dengan bayangan-bayangan nilai A yang selalu menghantui ketika aku masih kecil dulu. Kini yang kuinginkan hanyalah dapat belajar dengan baik dan lulus dengan nilai apapun yang dapat kuperoleh dari hasil belajarku selama ini. Teman, kuhanya memberikan contoh kepadamu bagaimana keluarga kecilku yang dengan ‘’keterbatasan nilai’’ yang mereka raih ketika masih muda dapat tetap menjadi orang sukses di masa mereka masing-masing. Sesungguhnya masih banyak orang-orang di sekitarku yang dengan keterbatasan nilai yang mereka miliki tetap bisa mendapatkan erasmus ke berbagai negara di Eropa, mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang cukup menjanjikan di beberapa perusahaan ternama ataupun menjadi bos-bos besar yang dalam hitungan detik dapat meraup banyak uang yang mungkin tidak dapat kita hitung berapa jumlahnya.

Teman, percayalah! Jangan kamu bebankan dirimu kepada tujuan idealismu untuk selalu mendapatkan nilai tertinggi. Nilai tinggimu mungkin bisa membawamu masuk hingga tahap ‘’interview’’, tapi percayalah lebih daripada nilai, mereka (bos-bos dengan jas dan dasi mewah) yang tak pernah sungkan menatapmu dengan tatapan tajam ketika proses interview berlangsung menginginkan hal yang lebih dari sekedar nilai bagus dari dirimu. Percayalah aku di sini tidak mengatakan bahwa nilai itu sesuatu yang penting, namun kamu tetap bisa menjadi orang sukses walaupun kamu tidak mendapatkan nilai tinggi sekalipun. Bagiku, tetap bekerja keras dengan kejujuran dan doa yang tidak pernah putus merupakan kunci emas dari sebuah kata sukses yang insya Allah akan kita dapatkan bersama-sama di hari kelak, aamiin. Salam damai dari ujung Istanbul yang selalu dingin. Selamat belajar, semuanya! 🙂

Tuhan Tidak Sebercanda Itu

Bumi ini luas. Terlalu luas untuk milyaran kepala yang setiap hari harus berjuang untuk bertahan hidup. Ada yang selalu bangun siang, duduk di depan layar komputer, dan beberapa jam kemudian mendapatkan pesan masuk tanda sejumlah uang telah terkirim ke rekeningnya. Ada yang sibuk bangun terlalu pagi dan tidur terlalu malam hanya untuk mengerjakan projek yang tak pernah ada habisnya. Ia tak peduli seberapa besar kantung mata yang sudah terbentuk hanya karena motivasi untuk bisa membahagiakan anak istrinya. Ada yang sibuk berpanas-panasan di tengah-tengah genangan lumpur sawah hanya untuk memastikan bahwa panen musim kali ini akan memberikan rejeki yang berlimpah. Ia tak peduli sepanas apa sinar matahari yang telah membakar kulitnya. Ada pula yang sibuk membawa map ijazah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain hanya untuk mengadu nasib. Ia tak peduli seberapa malu dirinya karena harus ditolak berkali-kali. Ya, kadang Tuhan seperti sedang bercanda. Di saat yang lainnya sibuk berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi setiap harinya, di lain sisi ada sebagian dari mereka yang hanya bersantai di rumah namun ‘hap’ dalam hitungan beberapa jam saja bisa mendapatkan sejumlah nominal di dalam rekeningnya.

Bumi ini penuh dengan manusia. Terlalu penuh untuk mereka yang tiba-tiba tanpa sengaja bertemu dan berjodoh pada akhirnya. Namun ternyata tidak semua pertemuan berakhir manis. Ada yang telah bertemu dan mengucap ikrar sehidup semati namun ditinggalkan begitu saja hanya karena rasa bosan. Ada yang telah bertemu dan saling mengasihi namun tak pernah bisa bersatu karena tak direstui. Ada yang telah bertemu dan saling mencintai namun tak bisa bersatu karena alasan ekonomi. Ya teman, kadang Tuhan seperti sedang bercanda. Di saat kita telah menemukan tambatan hati, menemukan ia yang kita yakini akan menjadi teman sehidup dan semati, Tuhan dengan mudahnya menjadikan hati yang bahagia menjadi gundah gulana hanya dalam beberapa detik dengan memberikan kita rasa kehilangan.

Bumi ini kaya. Terlalu kaya untuk mencukupi seluruh kebutuhan manusia yang ada di dalamnya. Namun ternyata pemenuhan kebutuhan manusia tidaklah semudah itu. Ada yang tak pernah tau apakah dalam satu hari ia bisa makan atau tidak hanya karena keuangan yang tidak mencukupi. Ada yang tak pernah tau apakah esok hari ia bisa duduk di bangku perkuliahan atau tidak karena ancaman pemutusan beasiswa. Ada yang tak pernah tau apakah esok masih bisa melihat matahari bersinar karena rasa sakit yang harus ditahan dari hari ke hari karena keterbatasan dana untuk berobat ke rumah sakit. Namun di samping semua kesulitan itu, ada pula yang hampir tiap minggu masuk ke luar pusat perbelanjaan, membawa belasan tas belanja dengan harga puluhan bahkan ratusan juta, dan tak lupa tertawa bersama teman-teman sejawatnya sambil membicarakan harus makan malam di restaurant yang seperti apa. Ya sayang, kadang Tuhan seperti tampak sedang bercanda. Tidak  Ia berikan semua kesenangan kepada hamba-hamba-Nya secara merata.

Mungkin benar kadang kita melihat Tuhan senang bercanda. Ia membawa kita ke tempat tertinggi namun sedetik kemudian mengharuskan kita terjun hingga ke titik paling dasar. Mungkin benar kadang kita melihat Tuhan senang bercanda. Ia menghadapkan kita kepada pilihan yang amat sulit. Jika kita memilih yang satu maka sampai kita menutup mata kita akan menghadapi kesedihan yang terus menerus namun itu memang yang terbaik atau jika kita memilih satu yg lain kita akan senang namun kesenangan itu hanya akan bertahan sementara. Mungkin benar kadang kita melihat Tuhan senang bercanda. Ia memaksa kita untuk bertanggung jawab akan sesuatu yang kita tidak perbuat.

Tapi tahukah kamu, teman? Nyatanya Tuhan tidak sebercanda itu. Selalu ada alasan terbaik untuk setiap keputusan yang Ia berikan. Semua yang datang dari-Nya hanyalah bentuk perwujudan kasih sayang-Nya. Semua rasa sakit yang sering kita rasakan selalu memiliki obat penyembuhnya. Semua masalah yang kita alami akan ada jalan keluarnya. Semua derita yang kita dapatkan akan sirna jika kita percaya, percaya bahwa semua itu hanya sementara karena roda selalu berputar. Roda selalu berputar walau kita tidak pernah tau seberapa cepat perputaran roda itu.

Sayang, nyatanya Tuhan tidak sebercanda itu. Ia menguji kita untuk membuat kita menjadi lebih dewasa. Ia menguji kita untuk bisa menempatkan kita ke tempat terbaik di kemudian hari. Bersabarlah! Lakukan segala hal terbaik yang bisa kita lakukan dan jangan mengeluh! Mungkin hari ini beban di pundak terasa begitu berat sehingga kita merasa akan terjatuh dan tak mampu bangkit lagi. Berdoalah! Berdoalah agar Tuhan menguatkan bahu kita dan kita tetap bisa berjalan sembari mencari penyelesaian masalah-masalah kita. Percayalah, sayang! Selalu ada terang setelah gelap. Selalu ada senyum setelah tangis. Selalu ada pelangi setelah hujan. Percayalah, sayang! Karena Tuhan tak sebercanda yang kita kira 🙂

Dunia Berubah, lalu Kita ?

Bumi berputar. Siang berganti malam, pun malam kembali menjadi siang. Nyatanya tidak pernah ada yang abadi di dunia ini. Si kaya yang setiap pagi selalu dibukakan pintu mobilnya oleh sang supir pribadi, bisa – bisa esok hari ia ditemukan berteriak – teriak di terminal Pulo Gadung demi mengajak beberapa penumpang untuk naik mikrolet yang ia gunakan demi mencari nafkah. Tidak hanya itu. Mungkin si populer nan cantik jelita yang selalu dipuja dan dipuji oleh teman – teman seangkatannya bisa jadi kehilangan popularitas hanya karena ketidak cocokan make up yang ia pakai sehingga kulit wajahnya terdapat bercak – bercak putih yang mengakibatkan ia dijauhi sekitar karena dicap “si buruk rupa”. Ah sepertinya dunia memang telah berubah.

Entah berubah ke arah yang lebih baik atau tidak, namun tidak bisa kita pungkiri bahwa segala sesuatu yang berada di dunia ini memang akan berubah secara kita sadari ataupun tidak. Namun, jika dunia memang berubah, haruskah kita terbawa akan arus perubahan itu ? Akankah siang kita berubah menjadi malam ? Akankah hari – hari di mana kita selalu tertawa berubah menjadi sendu yang berkepanjangan ? Atau haruskah candaan – candaan yang saling kita lontarkan berubah menjadi nyanyian sedih yang tak berujung ? Kuharap tidak, kawan.

Kamu dan aku, berada dalam satu barisan yang sama. Mungkin memang ada jarak pemisah di antara kita. Namun, bukankah kita selalu percaya bahwa tangan kita cukup panjang untuk menggenggam satu sama lain ? Bukankah kita sudah berjanji bahwa kita akan terus berjalan beriringan dan saling memastikan bahwa tidak ada yang saling meninggalkan ? Ah, kuharap itu bukanlah sekedar obrolan semata, kawan. Kuharap kita tidak pernah berubah.

Jingga yang menyeruak hingga ke seluruh sudut langit, jingga yang mampu merubah warna kehidupan dalam satu putaran waktu. Aku berharap perubahan yang kita lewati, seperti jingga di saat senja yang mampu merubah warna kehidupan menjadi lebih baik. Mungkin aku berubah, kamu pun begitu, tapi bukankah siang akan kembali menjadi siang setelah malam bertamu hanya untuk bertegur sapa ? Ya, aku rasa kita bisa seperti itu. Berubah hanya untuk beristirahat sebentar dari bosannya peran yang itu – itu saja namun selalu ingat bahwa selalu ada waktu untuk pulang ke rumah yang sebenarnya. Ah, sepertinya dunia memang telah berubah, aku berubah, kamu pun berubah,namun persahabatan kita ? Ah, tenang lah kawan, bukankah hanya maut yang mampu memisahkan dua insan yang sudah saling jatuh cinta sejak tiga tahun yang lalu ini ?

 

Rindu Tanpa Titik Pun Tanpa Koma

Titik di akhir. Koma di tengah. Kupikir semua yang ada di dunia ini akan memiliki akhir dan penggalan seperti sebuah kalimat yang diakhiri dengan sebuah tanda ‘titik’ pun dipenggal dengan sebuah tanda ‘koma’. Nampaknya itu hanyalah sebuah teori yang hanya berlaku dalam hal tertentu dan tak dapat dipakai dalam mendefinisikan sebuah kata “rindu”.

Rindu tanpa titik, rindu yang tak terbatas. Seperti rindu ibu kepada buah hatinya. Seperti rindu ibu yang ingin kembali memeluk anaknya seperti yang biasa ia lakukan saat melihat anaknya baru pulang dari menuntut ilmu dengan wajah yang terlihat lelah. Seperti rindu ibu yang ingin kembali membelai kepala buah hati kecilnya dan mengatakan, “Semua akan baik – baik saja, nak. Ibu ada di sini.”. Ah, rindu memang tak memerlukan titik. Ia terlalu besar untuk diberikan batas akhir.

Rindu tanpa koma, rindu yang tidak memerlukan waktu untuk beristirahat sejenak, tetap mengalir dari waktu ke waktu. Seperti rindu ayah kepada permata kecilnya. Seperti rindu ayah yang selalu menyempatkan waktu untuk mengantar jemput anaknya walaupun di saat yang sama ia juga sedang berada di dalam meeting yang amat sangat penting. Seperti rindu ayah yang menggenggam tangan buah hatinya untuk selalu memastikan bahwa belahan jiwanya dalam keadaan baik – baik saja. Ah, rindu tampaknya juga tak memerlukan koma.

Rindu tanpa titik pun koma. Tidak peduli akan perbedaan jarak dan waktu, nyatanya rindu itu terus bertambah besar seiring berjalannya waktu. Rindu yang kupastikan hanya milik kalian. Rindu yang kupastikan suatu saat akan terbayar lunas. Tunggu aku, Ibu. Nantikan aku terus, Ayah. Aku akan berusah terus bertahan dengan rindu tanpa titik pun koma yang selalu kurasa.

 

Terima Kasih, Kamu

Berawal dari sebuah perjalanan yang pada akhirnya mengantarkanku kepada sebuah peristiwa. Tidak akan pernah kulupa gemerlap lampu – lampu di arena bermain anak kecil itu hingga akhirnya kamu bercerita sepenggal kisah mengenai keluargamu. Saat itu tidak ada yang bisa kuucapkan selain rasa kagum yang hingga kini selalu kucoba untuk kutahan sekuat mungkin.

Kepadamu yang sangat amat menyayangi keluargamu, kepadamu yang selalu memperhatikan keadaan adikmu, dan kepadamu yang sangat setia kepada sahabat – sahabat serta teman – temanmu, kuucapkan beribu – ribu terima kasihku kepadamu. Terima kasih karena telah menjadi bagian terindah dalam perjalananku untuk menjadi hamba Tuhanku yang lebih baik.

Aku tidak tahu akan sampai kapan semua rasa kagum ini akan berlanjut, aku tidak tahu sampai sejauh mana semua perkara tentangmu selalu membuatku bersemangat dalam menjalani hari – hari, namun yang aku tahu, karena seluruh kebaikanmu, aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku tidak ingin menjadi baik hanya karenamu, tetapi aku ingin menjadi baik karena aku tahu kebaikan yang kamu ajarkan akan mengantarkanku lebih dekat kepada Penciptaku, sama seperti kata – kata yang selalu kamu ucapkan terus menerus ketika sedang berbicara denganku di salah satu kota di Turki ini.

Sekali lagi, di tengah – tengah rasa kantuk yang mulai mendera, ingin kuucapkan terima kasih yang sangat mendalam untuk selalu menjadi alarmku dalam berbuat kebaikan. Semoga kita dapat dipertemukan di keadaan yang lebih baik lagi. Terima kasih dan terima kasih untukmu yang namanya selalu kusebut di dalam doaku. 🙂